Google
 
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2009

KEHIDUPAN DI BATAVIA 1920-an



Pada tahun 1928 Batavia berpenduduk 450 ribu jiwa, 25 ribu diantaranya orang Eropa. Di antara orang Eropa itu, dua pertiganya Indo-Belanda. Mereka tersebar diseluruh kota, hidup dalam rumah besar maupun dalam tempat tinggal sederhana. Bahkan banyak yang tinggal di sepanjang jalan becek dan kotor di kampung-kampung yang terletak di pinggir kota, seperti Kemayoran, Jakarta Pusat. Kampung ini dikenal dengan istilah Belanda Kemayoran. Maksudnya, Indo Belanda yang tinggal di Kemayoran.

Tapi, bukan hanya di Kemayoran. Di beberapa kampung juga banyak tinggal para Indo Belanda mapun totok. Kalau yang belakangan ini tidak mau bergaul dengan orang kampung, tidak demikian dengan para Indo. Saat tinggal di Kwitang semasa kecil, saya banyak bergaul dengan para Indo Belanda. Hampir tiap hari bermain sepakbola dengan mereka baik di lapangan Kwitang, maupun Gambir (kini Monas). Warga Belanda dan Indo meninggalkan Indonesia pertengahan 1950-an ketika hubungan kedua negara putus karena masalah Irian Barat (Papua).


Kembali ke situasi Batavia 1928, kala itu rum ah-rumah besar mendominasi pusat kota. Sampai 1950-an, di jalan raya antara Kramat, Salemba, Matraman, dan Jatinegara, terdapat banyak rumah (gedung) besar dengan pekarangan yang begitu luas. Kini gedung-gedung tersebut berubah fungsi menjadi perkantoran, perusahaan dan perhotelan. Salah satunya adalah Gedung Arsip Nasional dan Departemen Sosial, keduanya di Salemba yang dulunya merupakan rumah tinggal. Rumah-rumah tersebut pada awalnya dibangun sebagai tempat tinggal di luar kot a (county residence) bagi orang Eropa, namun secara bertahap mereka terserap menjadi wilayah pinggiran kota.

Ketika itu, tulis Pamela Pattynama dalam buku Recalling the Indies, status dan kemakmuran penduduk dapat diukur dari tempat tinggalnya. Beberapa rumah menyerupai istana dengan ruangan dingin beratap tinggi yang dilengkapi galeri dan teras marmer dilatari dengan halaman rumput, hiasan pohon palem dan pohon lainnya.


Kala itu, kawasan Menteng baru saja dibangun (awal 1920-an). Di atas tanah seluas 600 hektar, ratusan pekerja termasuk para arsitek, terlihat sibuk membangunm Menteng untuk dijadikan sebagai kawasan elit Eropa. Ketika Menteng dibangun, para penduduknya (warga Betawi), dipindahkan ke Karet, Jakarta Pusat. Mereka yang tergusur telah meningkatkan ganti rugi dari lima sen menjadi lima perak (gulden) per m2. Syarikat Islam (SI) yang kala itu baru berdiri turut berperan membela penduduk hingga mendapat ganti rugi yang layak.

Seperti diceritakan Pamela Pattynama, dosen luar biasa pada Amsterdam University yang mengadakan penelitian untuk tesisnya, rumah-rumah besar tempat tinggal para elit Indo, memilikki banyak pembantu. Pada pukul lima pagi koki sudah menyiapkan kopi tubruk untuk tuan rumah sambil mengisap cerutu. Sementara tukang-tukang kebun menyapu dan membersihkan halaman dengan sapu lidi besar. Sedangkan tukang rumput membersihkan dan memangkas rumputnya. Sementara para babu sibuk menyiapkan hidangan sarapan yang terdiri dari bubur, roti dan biskuit, dengan selai atau keju.

Dalam kehidupan sehari-hari para Indo lebih banyak mengikuti adat istiadat penduduk setempat. Para wanitanya, bila berada di dalam rumah menggunakan kebaya dan kain batik. Baru di luar rumah mereka mengenakan pakaian Barat. Sedangkan pria memakai piyama pada sore hari setiba dari kantor. Sementara para nyonya memakai kimono atau hoskut. Kala itu, kantor-kantor umumnya berada di kawasan Kota. Mereka ke kantor dengan menggunakan mobil, delman atau trem listrik, yang mendominasi angkutan ketika itu.

Sepeda juga banyak digunakan, se hingga di jalan-jalan Batavia ada jalur khusus untuk sepeda. Pukul 12.00 siang, saat jam istirahat kantor, dari rumah dikirimkan rantang berisi nasi, sayur mayur, dan kerupuk. Rupanya kala itu di kantor-kantor tidak terdapat kantin seperti sekarang. Atau mungkin harganya lebih mahal.

Kehidupan kala itu sangat tenang, tidak dipusingkan oleh kemacetan lalu lintas, dan gangguan keamanan. Tidak heran pada sore hari mereka dapat berpesiar dengan leluasa ke pusat-pusat pertokoan di Noordwijk (kini Jl Juanda) dan Pasar Baru. Mereka akan membeli kosmetik dan barang-barang renik serta melihat-lihat desain terbaru Bonnefaas, perancang busana terkenal. Tujuan utama dari jalan-jalan shopping mereka adalah toko The Little Swiss Fashion House dan Vesteeg Fashionj Emporium untuk memperoleh pakaian wanita yang mewah.

Jika tidak menemukan apapun yang mereka sukai, mereka akan mengunjungki toko Maison dxe Bonneterie dan toko Au Printemps di Jl The Risjwijk (kini diujung Hayam Wuruk), yang masih memperoleh koleksinya langsung dari Paris. Dalam waktu pertengahan mereka minum kopi di Stam and Wijen, atau membeli es krim di Ragusa's (sampai kini masih buka di Jl Veteran I).

Ketika itu, film bicara baru saja dimulai menggantikan film bisu. Sejumlah bioskop kelas satu antara lain Rembrandt Theatre, Globe Bioscoop, Decapark, dan Troelie. Kini hanya tinggal bioskop Globe di Pasar Baru. Bintang film yang jadi pujaan penonton, khususnya para gadis, adalah Rudolph Valentino, yang berwajah tampan dan seksi.

Pada hari-hari Minggu bila tidak ke tempat peranginan di Buitenzorg (Bogor), para pemuda dan gadis pergi ke zwembad (pemandian) Manggarau atau Cikini di Weltevreden. Jadi tradisi kala itu, di kolam renang dari pukul 11 ada pertunjukan band. Para muda-mudi ini datang ke kolam renang dengan sepeda motor empat gigi -- Royal Enfield dan Harley Davidson. Setelah berenang dan dengar musik, mereka pun berdansa, dan splitjes (meminum minuman beralkohol).

( Alwi Shahab from Republika)

Sumber : kampung-pinggiran.blogspot.com

[+/-] Read More...

Selasa, 12 Mei 2009

De Wallen in Kali Besar

Salah satu museum di kawasan De Wallen, Belanda

Kawasan di sekitar Kali Besar, Jakarta.

Beginilah kondisi Kali Besar di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Sampah seringkali menggunung di kali ini, bau busuk dari tumpukan sampah menyebar dan menusuk hidung.

Kawasan prostitusi De Wallen atau The Walls yang terkenal di dunia. Tempat ini ada di jantung kawasan tertua Amsterdam sekaligus di pinggir kanal.

De Wallen, Amsterdam, suatu siang di musim gugur yang berangin. Seperti biasa turis dan penduduk lokal berbaur. Tak ada yang peduli satu sama lain. Yang satu mengagumi kotak kaca, yang lain bergegas entah ke mana. Yang satu tanpa tengok kiri kanan melesat masuk ke salah satu gedung tua, yang lain menyasar coffee shop.

Itulah selintas gambaran kesibukan kawasan prostitusi terbeken dunia. De Wallen atau The Walls ada di jantung kawasan tertua Amsterdam sekaligus, tentunya, di pinggir kanal. Kotak kaca tadi tak sekadar kotak kaca karena di dalamnya perempuan-perempuan berpakaian minim sengaja mejeng. Deretan gedung tua di sana banyak diisi dengan segala sesuatu yang berbau seks, masuk ke sex shop, coffee shop, atau museum—museum kanabis dan museum seks—jadi alternatif turis yang penasaran sekaligus sebagai sarana "berteduh" sebentar dari semburan angin.

Malam di kawasan yang sama, suasana makin hidup, sumringah. Angin dingin yang menampar-nampar sekujur tubuh tak lagi terasa. Kanal-kanal memantulkan sinar lampu, bau mariyuana lewat bersama angin berpadu dengan bau mulut-mulut selepas menenggak minuman beralkohol.

Sekejap kemudian, Warta Kota seperti terbangun dari mimpi. Di depan mata memang terpantul kerlip lampu kanal, memang terhampar bangunan tua, dan memang semua itu ada di jantung tertua sebuah kota. Tapi ini bukan De Wallen, ini Kali Besar, ini Jakarta.

Saat bau alkohol menyebar dari mulut-mulut pengunjung kafe jalanan di Kali Besar itu mampir sebentar di hidung disambut asap rokok kretek, saat itulah Warta Kota terlempar kembali ke kanal lain di Jakarta. Perempuan seksi bergoyang seksi berusaha memanaskan suasana malam. Pengeras suara berukuran besar bertumpuk di depan gedung, atau tepatnya di belakang Museum Wayang.

Sementara itu, meja dan bangku-bangku ditata layaknya kafe. Di tengah meja tertata rapi beberapa jenis minuman beralkohol, kadang ditambah cemilan berupa kacang kulit. Semua ditata di pinggir jalan beratapkan langit. Pria-pria bersama beberapa perempuan saling pepet, berpangku, dan bergelayut mesra. Di latar belakang, pengeras suara setia menemani penyanyi dangdut yang tetap ngotot dengan suara sember-nya.

Namun demikin "De Wallen" Jakarta ini tak seperti De Wallen yang asli. Di sini, pria-pria akan lupa diri setelah alkohol memengaruhi kesadarannya. Di sini, semua itu bikin warga prihatin, di sini semua itu ilegal. Di sini, orang membuang hasrat seenaknya. Di sini tak ada patung Belle bertuliskan "Hormati pekerja seks di seluruh dunia". Di sini, kondom barangkali cuma bermakna sekadar kata benda.

Di kota tua Jakarta, "De Wallen" itu ada, nyata. Tapi di sini, "De Wallen" bukanlah De Wallen. Bagaimanapun warga kelas bawah itu tetaplah perlu tempat melepas apa pun yang menyesakkan dada dan membekukan otak di kepala. *

Pradaningrum W

Sumber : kompas.com

[+/-] Read More...

Senin, 11 Mei 2009

Merindu Trem di Jakarta

Peta jalur trem di masa lalu

Alat transportasi bernama trem mulai diperkenalkan di Batavia pada 1869. Trem pada masa itu ditarik oleh kuda. Meski "mesin penggeraknya" kuda, tapi jarak tempuhnya lumayan panjang, dari Kwitang ke Pasar Ikan. Lambat laun posisi trem kuda digantikan dengan trem bermesin uap pada 1881. Ketel uap yang ditempatkan dalam kaleng besar menjalankan lokomotif trem.

Karena menggunakan uap maka jarak tempuh trem ini lebih jauh, dari Pasar Ikan ke Gajah Mada hingga Harmoni, berlanjut ke Kramat melalui Pasar Baru dan lapangan Banteng, kemudian ke Meester Cornelis (Jatinegara) melewati Salemba dan Matraman.

Sekitar 20 tahun kemudian atau tahun 1901 trem listrik mulai diperkenalkan. Meski demikian, trem upa tetap beroperasi. Trem uap akhirnya berhenti beroperasi pada 1933 karena semua trem sudah menggunakan listrik.

Trem listrik berakhir pada tahun 1960 di masa Wali Kota Sudiro. Ketika trem hendak digusur, Sudiro memohon pada Presiden Soekarno agar jaringan trem dari Jatinegara - Senen tetap dipertahankan. Tapi Bung Karno, Presiden RI pertama, menolak dan menganggap trem tidak cocok untuk kota semacam Jakarta. Dia lebih setuju dibangun metro atau kereta api bawah tanah.

Dalam majalah Star Weekly terbitan 29 Maret 1960 ada artikel tentang trem yang siap digusur. Dalam artikel itu dinyatakan bahwa penghapusan trem adalah untuk mengurangi kemacetan. Jalan Gaja Mada disebut sebagai jalan yang selalu macet dan orang selalu menyalahkan trem sebagai biang keladi kemacetan. Padahal kemacetan tidak selalu karena trem tapi juga karena oplet mogok.

Star Weekly edisi yang mengangkat judul "Trem Kota Djakarta Akan Tamat Riwajatnja" menyebutkan, trem uap diganti trem listrik adalah karena jalur (lin) yang ditempuh trem listrik berbeda dengan yang ditempuh trem listrik. Trem uap melalui jalur sepi penduduk di masa lalu, seperti Mangga Dua, Jalan Jakarta, Gunung Sahari ke Kramat dan Tanahabang.

Jalur trem di Batavia sudah masuk dalam buku panduan turis yang akan melancong ke Batavia. Buku "Gids voor Indie" terbitan 1932 bahkan menyertakan jalur dan peta trem di Batavia.

Trem di masa lalu menjadi bulan-bulanan rakyat karena dinilai sebagai sisa kolonialis yang sangat berbau Eropa. Tak heran jika pada tahun 1960 itu banyak pula yang bersorak saat trem dihapus. Trem diganti bus-bus yang dikelola PPD. Padahal pada kenyataannya jika trem terus dilestarikan, transportasi Jakarta tak bakal seruwet dan sekacau sekarang ini. Pada akhirnya, toh, pemerintah DKI Jakarta terus mengupayakan transportasi massal semacam TransJakarta, serta merencanakan monorel bahkan subway. Meski rencana tinggal rencana.

PRA

Sumber : kompas.com

[+/-] Read More...

Minggu, 10 Mei 2009

Menanti Taman Wisata Sejarah di Makam Beng Kong


Gang Taruna, gang sempit menuju makam kapitan Souw Beng Kong.

SEBUAH gang sempit di antara permukiman padat di kawasan Mangga Dua kini seakan mencuat. Tepatnya, mungkin, semakin mencuat karena semakin banyak orang mengetahui keberadaan gang ini - sebuah gang yang terbilang istimewa. Gang kecil bernama Taruna di Jalan Pangeran Jayakarta ini menyimpan satu makam kuno dari petinggi Batavia di tahun 1600-an.

Di tahun 1600-an kawasan itu merupakan kebun luas milik seorang kapitan. Kini kebun luas itu sudah berubah menjadi sebuah kawasan padat penduduk. Tak ada lagi bekas-bekas masa lalu kecuali makam kuno tadi.

Makam yang disebut-sebut ajaib ini adalah makam kapitan Tionghoa pertama di Batavia, Souw Beng Kong. Ajaib karena makam dari tahun 1644 itu tak tergerus perkembangan kota, tak tergusur bangunan petak di kawasan ini. Makam kuno dengan tiga batu nisan berbahasa Belanda dan China ini sempat terlupakan, tak terurus hingga jadi dasar bangunan kos (hingga sekitar tahun lalu).

Di tahun 1929, Mayor Tionghoa Khow Kim An - pemilik Gedung Candra naya - memugar makam Beng Kong. Khow Kim An juga yang menambahkan dua nisan, berbahasa Belanda dan China, yang menjelaskan riwayat sang kapitan untuk melengkapi makam. Keajaiban lain adalah kenyataan bahwa makam Mayor Kim An yang memugar makam Beng Kong pun belum ditemukan keberadaannya.

Menurut Hendra Lukito, pengamat bangunan China klasik, keberadaan makam yang bisa melampaui beberapa zaman, penyerobotan tanah, pembangunan liar sungguh dahsyat. "Bayangkan, makam ini ada di kawasan kumuh. Di atas makamnya malah ada bangunan bertingkat lengkap dengan jamban," ujarnya.

Di tahun 2002 berbagai kelompok masyarakat dari Universitas Tarumanegara, Matakin (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonsia), Paguyuban Sosial Masyarakat Tionghoa Indonesia (PSMTI) didukung oleh marga Souw berkumpul hingga pada 2006 makam Souw beng Kong bisa mulai dipugar dan mendapat lahan seluas 200 m2. Padahal, seperti sudah disebutkan di atas, dulu kawasan ini adalah kebun milik Beng Kong - luasnya 20.000 m2 hadiah dari Pemerintah Belanda.

Kini makam itu sudah dikonservasi bahkan diusulkan agar menjadi benda cagar budaya. "Kita sudah usulkan dari tahun lalu, tapi belum ada tanggapan. Kita tunggu aja, tapi kita juga tetap usahakan terus ke DPRD DKI dan dinas (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI - Red)," ujar Hendarmin Susilo, ketua Yayasan Souw Beng Kong . Sementara itu Ernawati Sugondo, anggota komisi B DPRD DKI menyatakan usulan ini mendapat tanggapan positif dari DPRD DKI.

Total anggaran pemugaran sekitar Rp 400 juta. Kini, anggaran besar diperlukan untuk mewujudkan rencana makam menjadi taman wisata sejarah. Pembebasan tanah di sekitar makam adalah tahap selanjutnya yang harus dikerjakan oleh Yayasan Souw Beng Kong. Upaya pembebasan tanah ini agar makam bisa terlihat dari Jalan Pangeran Jayakarta. Tujuan akhirnya tak lain adalah mewujudkan Taman Wisata Sejarah Kota Tua Batavia. Sebuah upaya yang tak mudah, tapi bukan tak mungkin.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Sumber : kompas.com

[+/-] Read More...

Sabtu, 09 Mei 2009

Buick Soekarno di Bekas Hotel Schomper I

Mobil sedan limosin merk Buick (tahun 1939) buatan pabrik General Motor (GM), Amerika Serikat, ini merupakan mobil kepresidenan pertama yang dimiliki pemerintah Indonesia dan digunakan oleh Soekarno dalam menjalankan tugas sebagai Presiden RI I.

Frans Schomper, begitu nama pria kelahiran RS St Carolus lebih dari 80 tahun lalu. Ia adalah "putra mahkota" pengusaha hotel dan restoran, baik di Jakarta, Bandung, maupun Lembang. Frans—kemudian menjadi "Prans" dan akhirnya menjadi "Pans" karena warga lokal sulit menyebut nama aslinya—mengalami masa bahagia selama sekitar 20 tahun di Batavia, sejak ia lahir di tahun 1926.

Kisah hidupnya tertuang dalam buku Maaf, Saya Anak Belanda Betawi. Sebagian bercerita tentang Batavia, kemudian berlanjut ke Bandung.

LC Schomper, ayah Pans, mendirikan hotel di kawasan yang kini dikenal sebagai Menteng Raya. Hotel Schomper 1, begitu namanya. Hotel ini dibangun khusus bagi pejabat tinggi Belanda, pengusaha asing, dan pejabat pribumi.

Saat Jepang menjajah Indonesia, Hotel Schomper dikuasai oleh pemuda Indonesia dan dijadikan asrama pendidikan nasionalisme para pemuda Indonesia. Soekarno (Presiden 1 RI), Mohammad Hatta (Wapres 1 RI), Adam Malik, Chaerul Saleh, dan sejumlah tokoh Indonesia lainnya merupakan tokoh pemuda yang terlibat dalam pendidikan pemuda yang memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia.

Saat Jepang menjajah Indonesia, Hotel Schomper dikuasai oleh pemuda Indonesia dan dijadikan asrama pendidikan nasionalisme para pemuda Indonesia. Soekarno (Presiden 1 RI), Mohammad Hatta (Wapres 1 RI), Adam Malik, Chaerul Saleh, dan sejumlah tokoh Indonesia lainnya merupakan tokoh pemuda yang terlibat dalam pendidikan pemuda yang memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia.

Saat Jepang masuk ke Indonesia itulah saat-saat Pans akhirnya harus kembali ke tanah moyangnya, tanah yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Nama Hotel Schomper I kemudian diganti dengan nama Gedung Menteng 31. Seiring perkembangan waktu, Gedung Menteng 31 dipergunakan untuk berbagai kegiatan, di antaranya sebagai kantor Kementerian Pengerah Tenaga Rakyat dan Kantor Dewan Harian Angkatan '45.

Pada 19 Agustus 1974, setelah melalui serangkaian perbaikan dan renovasi, Gedung Menteng 31 diresmikan sebagai Museum Joang '45 oleh Presiden Soeharto dan Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Nama Museum Joang '45 dipilih karena gedung ini memiliki peranan besar dalam mempertahankan kemerdekaan dan dapat menjadi wahana pewaris nilai-nilai kejuangan 45.

Di museum ini tersimpan Mobil REP.1. Mobil sedan limosin merk Buick (tahun 1939) buatan pabrik General Motor (GM), Amerika Serikat. Mobil ini merupakan mobil kepresidenan pertama yang dimiliki Pemerintah Indonesia dan digunakan oleh Soekarno dalam menjalankan tugas sebagai Presiden RI I.

Ada pula beberapa anggota yang membawa topi baja yang mempunyai tiga fungsi. Yaitu sebagai pelindung tembakan, penutup hujan (karena pasukan sering bergerak di bawah hujan), dan sebagai alat menjerang air panas untuk mengobati kudis.

Koleksi lain museum ini adalah senjata laras panjang merk Kirov, kaliber 762 buatan Rusia, dan senjata laras panjang merk Styer kaliber 762 buatan Austria. Keduanya diperoleh melalui perebutan dengan tentara Jepang di Malang. Jenis senjata lain adalah senjata otomatis merk Thompson kaliber 45 buatan Amerika yang digunakan TRIP selama tahun 1945-1949 di Malang.

Anggar bambu adalah koleksi jenis senjata lain di luar senjata berpeluru. Senjata tiruan dari bambu ini merupakan sarana latihan Laskar Putri dalam pendidikan keprajuritan untuk menggunakan senjata tajam dalam pertempuran. Pakaian Laskar Rakyat yang dipakai sewaktu berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia juga dipamerkan di museum bekas hotel ini.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Sumber : kompas.com

[+/-] Read More...

Jumat, 08 Mei 2009

Taman Kota Batavia, dari Kebun Sayur Sampai Terowongan

Taman Suropati yang ada di seberang rumah dinas Gubernur DKI Jakarta dan Bappenas ini merupakan salah satu taman peninggalan Belanda. Dulu taman ini bernama Burgemeester Bisschoplein. Pada gambar ini tampak Kelompok Taman Suropati Music Orchestra yang berlatih rutin seminggu sekali di taman ini.

BELUM genap sepekan Gramapel, Pemprov DKI, dan Warta Kota mencanangkan Sejuta Bunga untuk Jakarta. Dimulai di kawasan Kota Tua Jakarta. Sejuta bunga, meski taman minim, dimaksudkan untuk mempercantik kota. Bunga di dalam pot besar berjajar di sepanjang Kalibesar Barat, juga di pinggir Taman Fatahillah. Pot besar di pinggir Taman Fatahillah entah sampai kapan bertahan oleh pengendara sepeda motor yang tak ingin jalannya terganggu di saat jam-jam macet di Jalan Lada hinga ke Jalan Pintu Besar Selatan.

Jika di masa kiwari atau modern ini warga Jakarta "kehilangan" banyak taman maka betapa bahagianya warga Batavia di sekian abad lalu. Pernah dengan Wilhelmina Park? Di atas bekas Taman Wilhelmina ini kini berdiri megah Masjid istiqlal. Di sanalah dulu taman ini berada. Bayangkan taman nan luas, indah, banyak pohon rindang ditambah aliran Sungai Ciliwung yang masih bersih. Warga datang untuk bertamasya.

Warga pribumi menyebut taman ini sebagai Gedung Tanah. Bisa jadi ini karena di tengah taman berdiri benteng Frederik Hendrik. Benteng ini dibangun oleh Gubernur Jenderal van den Bosch pada 1834. Jangan harap bisa melihat sisa benteng ini kecuali jika dilakukan penggalian arkeologi. Dalam buku Jakarta Tempo Doeloe disebutkan, di bawah benteng ini ada terowongan menuju Pasar Ikan. Betul tidaknya, lagi-lagi sebuah penelitian arkeologi yang bisa menjawab.

Di atas benteng ini dipasang lonceng besar. Pemilik lonceng ini tak lain toko arloji milik orang Belanda di Rijswijk, Toko Van Arken demikian namanya. Siang dan malam tentara menjaga benteng ini. Tiap pukul 05.00 dan 20.00 bunyi meriam terdengar dari benteng ini. Bunyi meriam hanya hanya sebagai tanda bagi pihak tentara saja.

Selain benteng, di taman ini juga berdiri monumen untuk memperingati serdadu Belanda yang tewas pada perang Aceh. Nama monumennya, "Atjeh Monument". Monumen ini pun sudah tak berbekas.

Selain Wilhelmina Park, taman-taman kota lain yang dibangun pemerintah Belanda adalah Fromberg Park di Lapangan Monas sisi timur laut (dekat Gambir). Vondel Park ada di lahan yang sama di sisi yang agak lebih ke barat. Nama Vondel diambil dari nama penulis kenamaan Belanda, Joost van den Vondel, yang hidup sampai 1679. Berhadapan dengan istana Merdeka ada Deca Park, Plantsoen van Heutsz Boulevard - kini Taman Cut Meutia.

Taman Suropati yang ada di seberang rumah dinas Gubernur DKI Jakarta dan Bappenas dulu bernama Burgemeester Bisschoplein sedangkan Taman Pejambon semula bernama Hertogs Park. Sebelum menjadi taman, kawasan ini adalah kebun sayur untuk keperluan tentara Belanda yang tinggal di sekitarnya. Maka tak aneh jika hingga sekarang kawasan itu diberi nama Kebun Sayur.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Sumber : kompas.com

[+/-] Read More...

Sabtu, 23 Februari 2008

Hotels in Jakarta...


Olympic Hotel
Mangga Besar Street VII, A-63
Phone: (021) 6246666

Nikko Jakarta Hotel
MH Thamrin Street 59
Phone: (021) 2301122

Millennium Hotel Sirih Jakarta
KH Fachrudin Street 3
Phone: (021) 2303636

Menteng II Hotel
Cikini Raya Street 105
Phone: (021) 31925543

Menteng I Hotel
RP Soeroso Street 28
Phone: (021) 31925208

Menara Peninsula Hotel
Letjen S Parman Street Kav 78
Phone: (021) 5350888

Melawai I Hotel
Melawai Raya Street 18-20
Phone: (021) 2700408

Grand Cempaka Jakarta Hotel
Letjen Suprapto Street 62
Phone: (021) 4260066

Gran Mahakam Hotel
Mahakam I Street 6
Phone: (021) 7209966

Graha Menteng Hotel
Matraman Raya Street 21
Phone: (021) 8509872

Golden Boutique Hotel
Angkasa Street 1
Phone: (021) 6255555

Gading Indah Hotel
Pegangsaan Dua Street 10
Phone: (021) 4611989

Danau Sunter Hotel
Danau Raya Sunlake Street
Phone: (021) 6509969

Crowne Plaza Hotel
Jend Gatot Subroto Street Kav 2-3
Phone: (021) 5268833

Aston Atrium Senen Hotel & Convention Center
Senen Raya Street 135
Phone: (021) 3442828

Arcadia Hotel
KH Wahid Hasyim Street 114
Phone: (021) 2300050

Ambhara Hotel
Iskandarsyah Raya Street 1
Phone: (021) 2700800

Allson Residence Jakarta
Senen Raya Street 135-137 Tower A
Phone: (021) 3523379

Pintu Besar Hotel
Pintu Besar Selatan Street 42
Phone: (021) 6263660

Losari Blok M Hotel
Panglima Polim Raya Street 3
Phone: (021) 7265858

Karya II Hotel
Raden Saleh Raya Street 37
Phone: (021) 31925078

[+/-] Read More...